Four Hands, Two Sonatas, Korban Ambisi Sang Ibu
Pernah mendengar istilah Push-Parenting atau Hyper-Parenting? Hehehe saya juga baru tau tentang pola asuh orang tua yang salah ini. Jadi kurang lebih ortu terlalu menekan, memacu, dan menetapkan target ketat tanpa memberi ruang bagi anak untuk menentukan jalurnya sendiri.
Kebetulan saya mengenal beberapa teman yang berperilaku demikian. Anaknya dipaksa untuk belajar sekian jam per hari. Dipaksa ikut bimbel. Jika sang anak ketahuan baca komik atau menggambar, wah teman saya ini bakal marah besar.
Drama Korea “Four Hands, Two Sonatas” berkisah tentang Kang Bi O yang menjadi korban dari pola asuh push-parenting ibunya yang sangat berambisi agar anaknya sukses menjadi pianis.
Dalam dinamika tertentu, korban seperti Kang Bi O ini disebut sebagai golden child. Dia diposisikan sebagai trofi atau proyek ambisi sang ibu yang menginginkan Kang Bi O sebagai musisi jenius seperti kakeknya, Kang Seung-Woon.
Naas, meski Kang Bi O berhasil memenangkan banyak kompetisi, sang kakek tetap tak mengakuinya. Alih-alih memahami keadaan anaknya, sang ibu malah semakin menekannya, hingga Kang Bi O protes:
Ibu terlalu mengekangku, jadi jangan lagi jemput aku
Aku sungguh muak dan lelah dengan sikap ibu
Aku berlatih piano dengan keras untuk membahagiakan ibu
Aku berlatih sampai jari-jariku mau patah agar ibu tersenyum
Tapi apa gunanya
Aku sama sekali tak bahagia
Ibu tak akan bahagia sampai aku jadi pianis terbaik dunia
Aku sekarang stress , sementara yang ibu pikirkan hanya kompetisi
Menarik ya? Terlihat dari rating drama Korea “Four Hands, Two Sonatas” yang berhasil meraih rating 8,7 dari Mydramalist. Publik Korea juga mengapresiasi dengan kenaikan rating secara signifikan.
Diawali dengan rating 3.391% (nationwide) dan 3.466% (Seoul) di awal penayangan, AGB Nielson mencatat rating 9.374% (nationwide) dan 9.994%(Seoul) di episode akhir.
Apa penyebabnya? Yuk kita obrolin:
Baca juga drama Lee Jun Young lainnya:
May I Help You, Menepis Stigma Pengurus Jenazah
Dreaming of a Freaking Fairytale, Kisah Cinta Cinderella dan Pangeran yang Bangkrut
Song Kang sebagai Kang Bi O
Mengapa musikku tak memiliki jiwa?
Sejak kecil aku berkompetisi
Aku bermain sesuai buku
Berkat itu aku memenangkan semua kompetisi
Tapi karena itu, orang bilang musikku tak punya jiwa
Masalahnya, aku tak tahu cara menulis jiwa, atau
Mengapa musikku tak ada jiwanya?
Sejak kecil tak mengenal ayah, Kang Bi O hanya tahu ibunya sedang belajar di luar negeri dan pulang ke Korea dalam keadaan hamil. Karena itu pula, dia memakai marga ibunya, marga “Kang”.
Kakek Kang Bi O seorang maestro, dirigen Hankook Symphony Orchestra. Posisi dan kepopuleran yang membuat sang ibu terobsesi agar Kang Bi O seperti kakeknya. Sang ibu tak segan mengeluarkan uang banyak untuk biaya sekolah dan les Kang Bi O.
Malang, sang kakek tak menyukainya. Dia tak peduli cucunya berhasil mengumpulkan penghargaan. Alih-alih mengakui kemampuan cucunya, kakek Kang Bi O berpendapat:
Orang yang paling kakek benci
Orang yang bisa memainkan musik bagus
Lalu menganggap diri mereka hebat
Kau salah satunya
Merasa putus asa, Kang Bi O memutuskan untuk mengganti guru lesnya dengan Do Hyun-Soo, seorang maestro yang sempat menolak.
Kuakui teknikmu sempurna
Tapi musik bukan cuma teknik
Kau harus menjiwai emosi dibalik partitur
Rasa sakit, gembira, putus asa
Jika kau tak menyentuh penonton dengan emosi itu
Kau tak akan pernah jadi musisi sejati
Lee Jun Young sebagai Choi Jeong Yo
Main piano menyenangkanku
Dasar jenius, walau tak pernah les piano, Choi Jeong Yo yang kala itu masih berusia 10 tahun, berhasil memenangkan Kompetisi Piano Junior Donghan.
Kompetisi yang menimbulkan mimpi buruk, karena di event tersebut ibunya menghembuskan nafas untuk terakhir kali, meninggalkan Choi Jeong Yo tinggal bareng ayahnya yang pemabuk dan hobi meminjam uang pada rentenir,
Sinopsis Drama Korea Four Hands, Two Sonatas
Persahabatan kalian lucu
Karena itu Kang Bi O, kau tahu kan?
Siapa yang akan hancur berkeping-keping dalam hubungan ini?
Kang Bi O dan Choi Jeong Yo , dua pianis, dua karakter, dua pemuda dengan latar belakang yang jauh berbeda. Kang Bi O, cucu seorang maestro musik, keluarganya kaya raya, mereka mampu menyekolahkan Kang Bi O pada Korea Arts High School, sekolah seni yang terkenal. Berkat ambisi ibunya, Kang Bi O juga berhasil memenangkan banyak penghargaan.
Sementara Choi Jeong Yo yang miskin terpaksa belajar di SMA umum. Ibunya telah tiada sementara ayahnya pemabuk berat. Untuk membiayai kehidupan sehari-hari, Choi Jeong Yo harus bekerja di bawah Kim Se-Jin, seorang rentenir. Mirisnya ayah Choi Jeong Yo justru terjerat pinjaman dengan bunga tak masuk akal pada si rentenir.
Namun kemiskinan rupanya tak bisa meredam bakat dan minat Choi Jeong Yo pada musik. Diam-diam dia berlatih piano di tempat service alat music. Choi Jeong Yo juga terbiasa mendengar suara-suara di sekitarnya sebagai alunan music, bahkan mulai menciptakan karyanya sendiri.
Kompetisi Piano Junior Donghan menjadi pertemuan pertama Kang Bi O dan Choi Jeong Yo. Kala itu keduanya masih berusia 10 tahun. Setelah saling berduet dan Choi Jeong Yo meminjam sapu tangan pada Kang Bi O, dia mengajak berikrar:
Kang Bi O, mari kita berjanji
Setelah kompetisi, kita bermain piano lagi
Janji yang gagal terwujud. Pada event penyerahan Choi Jeong Yo sebagai juara pertama, ibunya meregang nyawa. Peristiwa yang membuat Choi Jeong Yo tak lagi berani tampil di atas panggung.
Takdir membuat keduanya bertemu kembali. Choi Jeong Yo kehilangan tempat tinggal pasca ayahnya tiba-tiba meninggalkannya. Choi Jeong Yo terpaksa menerima tawaran kepala sekolah Korea Arts High School, yang kesengsem melihat permainan pianonya, untuk menerima beasiswa dan tinggal di asrama sekolah seni untuk siswa berbakat.
Kesempatan duet piano terjadi ketika Do Hyun-Soo, seorang maestro yang diincar Kang Bi O menjadi gurunya, menginginkan keduanya mengikuti Konser Klasik Noblesse dengan four hands atau memainkan satu unit piano secara bersamaan.
Keduanya ternyata bisa saling mengisi dan saling membantu. Kala Choi Jeong Yo mengalami demam panggung, Kang Bi O menasehati:
Semua penampil juga demam panggung
Menghindarinya bukanlah solusi
Sedangkan Choi Jeong Yo membantu Kang Bi O yang kerap memenangkan penghargaan namun tak bisa menjiwai.
Dua maestro (Do Hyun-Soo dan kakek Kang Bi O) membandingkan permainan Kang Bi O dengan Choi Jeong Yo:
Kau memperhitungkan segalanya
Dia bermain dengan insting
Kau menganalisis struktur
Dia mencurahkan hatinya seperti lava yang meletus
Karena itu, orang menganggap musikmu tak tercela tapi membosankan
Tapi saat dengar musiknya, mereka terpukau walau tak sempurna
Hal seperti itu tak bisa diajarkan
Duet keduanya berhasil memukau pengunjung yang menghadiri Konser Klasik Noblesse. Kesuksesan yang sayangnya meretakkan persahabatan Choi Jeong Yo dan Kang Bi O.
Suara negative mengatakan Choi Jeong Yo lah yang telah berjasa. Pada gelaran tersebut Kang Bi O memang memasang penutup mata hitam pada Choi Jeong Yo agar tidak demam panggung.
Hal itu tentu saja membuat Kang Bi O kembali terpuruk. Kompetisi internasional Harmonie Praha menjadi ajang pembuktian, apakah Kang Bi O hanya pecundang. Terlebih Choi Jeong Yo menantangnya, dia bertekad tak kan menyerah.
Tantangan Choi Jeong Yo membuat Kang Bi O berlatih dengan membabi buta, termasuk ketika akhirnya mereka berhasil masuk 12 besar dan harus diisolasi dalam sebuah biara.
Kang Bi O yang berlatih tanpa mengenal waktu, hingga jari-jarinya terluka. Aktivitasnya mengganggu finalis lain, dan membuat salah seorang dari mereka mencuri buku partiture-nya.
Putus asa kehilangan buku, Kang Bi O berniat mengundurkan diri. Tentu saja Choi Jeong Yo tak tega. Dia memberikan buku partitur-nya sekaligus catatan pada part-part tertentu.
Berkat buku tersebut, Kang Bi O berhasil menampilkan permainan piano yang memukau juri, dan memenangkan Kompetisi internasional Harmonie Praha.
Sementara Choi Jeong Yo menghilang. Dia tak pernah muncul di lokasi kejuaraan.
Review Drama Korea Four Hands, Two Sonatas
Judul yang cerdas, drama Korea berjudul “Four Hands, Two Sonatas” merepresentasikan dua orang yang sangat berbeda, kemudian bersatu dan menciptakan sesuatu yang indah melalui musik.
Namun tentu saja bukan pemilihan judul yang membuat drama ini berhasil memperoleh rating 8,7/10 dari Mydramalist dan 8,5/10 dari IMDb (beberapa episode mendapat rating hingga 9,3/10).
Plotnya unik. Lambat tapi memikat. Tentang dua pianis berbakat yang saling bersaing, berubah menjadi persahabatan, ada tekanan keluarga, trauma masa kecil, kemiskinan dan proses pendewasaan.
Semua bahan diolah dengan seksama dan disajikan dengan menarik hingga melupakan protes mengenai betapa “tua”nya Lee Jun Young (29 tahun) dan Song Kang (32 tahun) dalam seragam SMA. Termasuk kelalaian mengubah riasan wajah keduanya 10 tahun kemudian.
Karakter Kang Bi O, si pecundang diperankan dengan amat baik oleh Song Kang. Alih-alih marah, penonton memahami Kang Bi O, bahkan ketika dia memutuskan kekasihnya, setelah “memanfaatkannya”.
Walau 3 tahun lebih muda, wajah Lee Jun Young lebih “boros” dibanding Song Kang, sehingga agak aneh melihatnya memakai seragam SMA, namun jam terbang akting membuatnya sukses memerankan Choi Jeong Yo, si anak miskin, slengean dan punya hati seluas samudra sebelum akhirnya sakit hati.
Ketika akhirnya keduanya berhasil menghadirkan chemistry dengan kedalaman emosional yang kuat, penonton untuk sejenak melupakan bahwa mereka sedang berakting.
Selain pemeran utama, saya menyukai akting Kim Ju-Hun yang berperan sebagai Do Hyun-Soo, guru Kang Bi O dan Choi Jeong Yo. Ada adegan dia sampai ngeces melihat kehebatan Choi Jeong Yo bermain piano. 😀😀
Dengan semua kekuatan akting para pemerannya, ditambah sinematografi indah serta desain suara yang membuat adegan piano terasa benar-benar mendebarkan dan tidak membosankan, gak heran apabila drama Korea “Four Hands, Two Sonatas” berhasil meraih penghargaan di tahun 2026 ini.
Baca juga drama Lee Jun Young lainnya:
Reborn Rookie, Kisah Cinta Seorang Ayah
When Life Gives You Tangerines, Terima Kasih Karena Anda Telah Bekerja Keras!
Profile
Title: Four Hands, Two Sonatas
Native Title: 포핸즈
Also Known As: Four Hands , Pohaenjeu
Director: Park Hyeon Seok
Screenwriter: Shin Yi Won
Genres: Music, Romance, Youth, Drama
Type: Drama
Format: Standard Series
Country: South Korea
Episodes: 12
Aired: Aug 29, 2026 - Oct 4, 2026
Aired On: Saturday, Sunday
Original Network: tvN






.png)

10 comments
Isu push-parenting dan golden child seperti yang dialami Kang Bi O ini memang sangat relevan ya dengan realitas, di mana anak sering kali dijadikan 'proyek berjalan' demi ambisi orang tua. Dari sinopsis dan kutipan dialognya aja udah keliatan banget kalau drama Four Hands, Two Sonatas ini sarat akan pesan psikologis tentang pentingnya mendengar isi hati anak. Kasian banget sama Kang Bi O yang berusaha mati-matian cuma buat lihat ibunya tersenyum, padahal kebahagiaan anak itu sendiri yang paling utama.
ReplyDeleteMenarik banget ya dramanya. Jadi pengen nonton. Pasti kena banget nih bakalan di aku. Ada tentang keluarga, parenting, bakat, bromance...
ReplyDeleteDuh, ngeri-ngeri sedap ya Ambu kalau ngomongin *push-parenting* lewat drama seperti ini, rasanya tertohok sendiri merenungkan betapa seringnya orang dewasa tanpa sadar menaruh beban hidup dan ambisi pribadi di pundak anak-anak yang mestinya masih asyik main piano cuma buat senang-senang, bukan demi lemari piala.
ReplyDeleteAkting Song Kang sebagai Bi O yang kehilangan "jiwa" karena ditekan jadi *golden child* itu rasanya nembak banget ke dada, ngingetin kita semua kalau bakat dan teknik sempurna bakal terasa hambar kalau enggak lahir dari ketulusan dan kebahagiaan si anak itu sendiri. Salam hangat sesama penjelajah blog, tulisan yang dalam dan bikin kontemplasi malam-malam!
Saya sebelumnya masih maju mundur mau nonton drama ini gegara review sepotong2 di status medsos rangorang, yang terkesan BL lah, yang ini, yang itu lah, padahal sudah penasaran banget mau melihat akting Lee Jun Young. Setelah membaca review Ambu secara detail begini, jadi semangat menonton Four Hands Two Sonatas.
ReplyDeleteSebuah pengingat buat kita sebagai orang tua, bahwa mendukung anak untuk berprestasi itu penting, tapi jangan sampai ambisi kita justru menjadi beban buat mereka. Anak bukan proyek untuk mewujudkan impian orang tua.
ReplyDeleteWah, saya jadi penasaran ingin menonton Four Hands, Two Sonatas, apalagi ceritanya bukan sekadar soal persaingan, tetapi juga persahabatan dan proses menemukan jati diri.
Jarang-jarang ya ada tema yang menampilkan dua orang pianis dengan lika-liku kehidupan mereka. Meski saling bertolak belakang nyatanya mereka saling support hingga menjadi jawara. Judul dramanya juga bagus deh. Suka saya. Four hands two sonatas. Yang bikin saya penasaran. Apakah dalam kehidupan aslinya kedua cowok ini bisa main piano?
ReplyDeleteBaca review dari mba langsung tercerahkan tentang apa sih drama ini sebenernya. Karena ada berita-berita berhembus di awal-awal episode ini nyerempet BL nggak siihh? Gitu deh. Jadi ragu mau nonton. Hoho. Ternyata aman banget yaa..
ReplyDeleteAmbuuuuuu aku juga nonton iniiiii ... seru banget yaaa.. walaupun katanya ada terinspirasi dari cerita BL tapi syukurnya sampai akhir nggak Yang nyerempet-nyerempet banget sih menurutku... malah banyak banget pelajaran parentingnya seperti yang udah Ambu jabarkan di artikel ini
ReplyDeletePiyooo..
ReplyDeleteHihihi.. aku nonton beberapa eps awal dulu Ambu sebagai pemanasan.. tapi belum lanjut.
Memang drakor depresi ini kok cocok sama aura Song Kang. Ditambah dengan posternya yang mengarah pada Queerbaiting...yang ternyata engga.
Aku rasa ini drama sekolahan yang unik yaa..
Karena mengingatkanku sama dorama "Nodame Cantabile" yang sempat di remake juga sama Korea.
Drama Korea Four Hands, Two Sonatas ini tuh sempat kontroversi ya? Agak kaget pas lihat rating di IMDB nya tinggi betul itu. Meski agak menjurus kayak keduanya ada rasa lebih, namun patut diakui akting keduanya bagus banget. Yang mbak jabarkan terkait wajah yang agak boros pun aku benarkan. Premis ceritanya menarik, pengasuhan seorang ibu yang ambisius sekali, menekan sang anak sampai yang nonton pun ikutan nyesek. Meski belum selesai juga sih nontonnya, 12 episode yang menantang.
ReplyDeleteTerimakasih sudah berkunjung dan memberi komentar
Mohon menggunakan akun Google ya, agar tidak berpotensi broken link
Salam hangat