c Plastic Beauty, Karena Banyak Alasan untuk Tampil Cantik | Ngerumpidotco

Plastic Beauty, Karena Banyak Alasan untuk Tampil Cantik

ngerumpidotco.my.id

Plastic Beauty, Karena Banyak Alasan untuk Tampil Cantik

Punya teman yang operasi plastik (oplas)? Beberapa teman saya pernah menjalaninya, salah satunya adalah Amy Qanita (anak saya seangkatan dengan Syahnaz), tapi paham sih, sebagai selebriti, ibu Raffi Ahmad ini selalu disorot kamera, ada tuntutan untuk tampil secantik mungkin.

Beda halnya teman lainnya. Pasca liposuction dan serangkaian oplas wajah, dia tidak hanya langsing juga tambah cantik, kulit wajah lebih kencang sehingga nampak lebih muda. 

Namun seperti biasa, muncul pertanyaan iseng, buat apa dia oplas? Paling yang lihat “hanya” teman pengajian, kasir supermarket, petugas gerai di mall, guru les, guru sekolah serta pastinya anggota keluarga. 😊😊

Ternyata salah! Oplas sangat membantu kesehatan mentalnya. Oplas membuat dia lebih percaya diri. Sebelumnya, dia merasa minder ketika ngumpul bareng keluarga suaminya yang emang cantik-cantik sih, terlebih pasca melahirkan, tubuh sang teman jadi melar.

Drama Jepang “Plastic Beauty” juga mengupas tentang Mami Ozawa, seorang ibu rumah tangga yang merasa “ditinggalkan” anak dan suaminya. Hingga dia memutuskan operasi kosmetik di area genital, yaitu pengecilan labia minora.

Pengecilan labia minora adalah prosedur medis atau bedah yang dikenal sebagai labiaplasty, yang bertujuan untuk mengurangi ukuran, memangkas, atau merapikan lipatan kulit bagian dalam vagina (bibir vagina bagian dalam)

Operasi yang membuat Mami Ozawa tersenyum cantik ini dikomentari seorang tenaga medis:

Memperbaiki itu (vagina) sebelum wajah, seperti melewatkan pakaian dalam yang sexy.

Diperankan oleh Matsuoka Mayu dan Naka Riisa, drama “Plastic Beauty” memang menyorot banyak sisi, seperti politisi yang membutuhkan wajah kinclong selama kampanye, serta konten kreator anak  yang melakukan operasi plastik untuk mendongkrak views channelnya.

Menarik ya? Anehnya IMDB hanya memberi rating 7,0/10 untuk drama Jepang “Plastic Beauty”. Rating lumayan diberikan Mydramalist yaitu; 7,6/10. Apa sebabnya? Yuk kita obrolin:

Baca juga tentang drama perempuan terobsesi jadi cantik:

Birth of Beauty, Metamorfosis Perempuan Korban Pelakor

True Beauty, Ada Apa Dengan Buruk Rupa?

She was Pretty (Korean Drama) Karena Cinta Adalah Soal Rasa

Pretty Li Hui Zhen, Pesan Cantik ala Tara Basro

ngerumpidotco.my.id

Mayu Matsuoka sebagai Fumi Numata

Melawan alam

Menolak penuaan, apa untungnya?

Demikian prinsip Numata, sebelum akhirnya terpaksa bergabung dengan Tohyama Cosmetic Surgery Clinic

Untuk alasan yang berbeda, ibu Numata juga tidak menyukai anak perempuannya bekerja di situ.

Keluarga Numata memang unik. Ibu kandungnya mantan pekerja klab malam. Entah sudah berapa kali dia bercerai dan menikah. Suami ibunya sekarang, bukan ayah Numata, bahkan Numata berbeda ayah dengan adik kandungnya.

Hingga Numata menganggap dirinya sebagai anak yang lahir dari ibu yang egois, yang lebih mementingkan kebutuhannya daripada kebutuhan anak-anaknya. Mulutnya selalu bau alcohol.

Meski demikian Numata sangat mencintai ibunya, perempuan yang menyimpan rapat-rapat kelahiran Numata.

ngerumpidotco.my.id

Riisa Naka sebagai  Rin Tohyama

Di dunia ini tak ada yang tak sakit

Punya kekasih sesama jenis, Rin mendapat beban sebagai penerus “Sang Tangan Dewa”, julukan yang diberikan pada ayah angkatnya, pendiri Tohyama Cosmetic Surgery Clinic.

Sejak kecil dia tahu ibu angkatnya memendam kesedihan yang mendalam, sesudah dewasa dan berjuang meneruskan kebesaran nama sang ayah, dia baru tahu bahwa ayahnya punya anak kandung.

ngerumpidotco.my.id

Synopsis Plastic Beauty Japanese Drama

Dari semua mahluk hidup

Hanya manusia yang melawan hukum alam

Kata Numata Fumi, seorang dokter bedah jenius di Katsushika Medical University Hospital, dia heran dengan keputusan banyak orang yang menghabiskan banyak uang untuk melakukan bedah kosmetik.

Keherannya semakin menjadi ketika dia mendapat kasus yang membuatnya geleng-geleng kepala:

“Memasukkan implant pada penderita tumor?”

Pasien itu bernama Kokubun Kana, seorang influencer perempuan yang terkena tumor ganas pada payudaranya, namun bersikeras memasang silicon agar payudaranya nampak indah.

Akibatnya “Kanabun” nama panggilan sang influencer, dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan kesakitan. Sebelum operasi pengangkatan tumor, Kanabun mewanti-wanti untuk memasukkan kembali implantnya. 

Tentu saja Numata menolak, pemasangan implant akan mengancam nyawa Kanabun. Pertimbangan medis Numata ternyata bertolak belakang dengan sang pasien. Payudara indah adalah hidupnya. Tanpa payudara yang membusung tinggi, dia  lebih baik mati. Kehilangan payudara kebanggaan membuat Kanabun nekad bunuh diri.

Kematian seorang influencer ternama tentu saja menggegerkan dunia maya. Numata sebagai dokter yang menangani kasus Kanabun terkena doxing netizen, sehingga Katsushika Medical University Hospital terpaksa melakukan skorsing padanya.

Skorsing membuat Numata gusar. Dia mempertanyakan kebijakan rumah sakit, bukankah seharusnya rumah sakit berpihak padanya? Dengan penuh emosi, Numata memutuskan untuk mengundurkan diri.

Menjadi pengangguran rupanya hal mewah bagi Numata. Gara-gara ayah tirinya terbelit utang sebesar 200 juta yen, keluarganya mengalami terror dari rentenir. 

Ketika itulah, bak Santa Claus, Rin Tohyama, direktur Tohyama Cosmetic Surgery Clinic muncul memberikan penawaran. Dia bersedia melunasi utang asalkan Numata mau bergabung dengan kliniknya.

Tak bisa berkutik, Numata terpaksa menyanggupi. Untuk menghindari hal yang tak diinginkan, Tohyama Clinic memberikan nama samaran Tanuma bagi Numata.

Ternyata ada alasan Rin Tohyama merekrut Numata. Pasca melakukan malpraktik medis (maloperasi) kosmetik pada Sara Konoike, seorang tamu VIP,  yang berakhir dengan kerusakan pada mata sang pasien, Rin Tohyama mengalami yips atau kondisi hilangnya kemampuan kontrol motorik halus secara mendadak

Setelah peristiwa tragis tersebut, Rin Tohyama membutuhkan dokter yang bekerja dibelakang layar. Dia harus mempertahankan gelar penerus “Sang Tangan Dewa”, julukan yang sebelumnya disematkan pada ayah angkat Rin Tohyama.

Selain Numata,  Rin Tohyama mempekerjakan dokter Fumio Hikita. Untuk kasus oplas yang rumit, pasien hanya mengetahui bahwa Rin Tohyama sebagai dokter yang akan melakukan operasi medis dengan “tangan dewa”nya, faktanya setelah pasien dibius akan muncul dokter Numata atau dokter Fumio Hikita untuk menggantikan tugas Rin. 

Kejeniusan Numata diuji sewaktu klinik Tohyama menerima pasien bernama Sakashita Yuriko, seorang penderita kanker yang menggantungkan hidupnya dari morpin untuk melawan rasa sakit.

Rin Tohyama menyanggupi permintaan Sakashita Yuriko dengan alasan:

Seseorang yang tak punya waktu

Meminta kesempatan terakhir untuk menjadi cantik

Bagaimana dokter bedah kosmetik akan menolak?

Kemoterapi bukan satu-satunya perawatan

Rin Tohyama ternyata punya tujuan lain. Operasi face lift akan disiarkan sebuah televisi swasta, lengkap dengan aktivitas sehari-hari dan “before after” wajah Sakashita Yuriko. Bukankah ini akan jadi promosi yang bagus untuk Klinik Tohyama?

Dengan bantuan Numata, Rin Tohyama berhasil melakukan face lift pada wajah Sakashita Yuriko, hal yang membuat nama Rin Tohyama semakin bersinar dan mendapat ucapan selamat dari banyak pihak.

Rin Tohyama memang butuh brand awareness untuk membuka cabang klinik Tohyama. Tak terduga Arata Tohyama, empunya julukan “Sang Tangan Dewa” rupanya tak Ikhlas. 

Setelah lama pensiun, Arata ingin turun gunung dan kembali membuka klinik operasi kosmetik dengan namanya. Dia meminta Rin menggunakan nama lain.

Di tengah intrik perebutan kekuasaan antara ayah dan anak pemilik nama Tohyama, Numata dirundung duka. Ibunya meninggal dunia setelah dirawat di rumah sakit.

Kala sedang berkabung, tak terduga, ada pelayat yang turun dari mobil mewah. Dia adalah Arata Tohyama, ayah angkat Rin Tohyama. Misteri bertambah sewaktu ditemukan buku tabungan dengan saldo 100 juta yen. Buku tabungan tersebut berusia 30 tahun atau seusia dengan umur Numata.

Semula Numata merasa kesal. Dengan uang 100 juta yen, seharusnya dia tidak harus “menjual kebebasannya” dengan bekerja di Klinik Tohyama. Namun, kemudian dia menyadari bahwa ibunya menyimpan rahasia besar tentang kelahirannya.

Rahasia itu terkuak setelah Numata memberanikan diri bertemu Arata Tohyama dan bertanya: “Apakah Anda adalah ayahku?”

ngerumpidotco.my.id

Review Plastic Beauty Japanese Drama

Mengubah wajah 

Tidak akan mengubah kita

Suka banget menonton drama/film tentang perempuan yang bertransformasi menjadi cantik jelita, maka ketika Mbak Hani menulis review-nya, gak pakai lama saya pun mantengin drama Jepang  “Plastic Beauty”.

Salah satunya adegan face lift yang sukses dilakukan pada wajah seorang nenek berusia 75 tahun. Sebelum operasi, wajah dan kondisi perempuan bernama Sakashita Yuriko tersebut sungguh menyedihkan. Kanker menggerogoti sisa-sisa hidupnya.

ngerumpidotco.my.id

Pasca operasi, wajahnya penuh sinar kebahagiaan. Penuh cahaya, seolah siap menyongsong masa depan, meski yang dia katakan pada fotografer yang mengabadikan wajahnya: “Aku siap menemui almarhum suamiku”.

Bikin nyes banget, apalagi dokter Fumio Hikita, rekan FL, bilang:

Itu sesuatu yang tak bisa dilakukan dokter umum

Setuju ya? Lha itu tubuhnya. Biaya yang dikeluarkan adalah uangnya. Ngapain juga hate comment pada yang melakukan operasi plastic (oplas), termasuk andai kemudian mereka ketagihan oplas.

Ditulis Ikegami Junya, yang juga merupakan screenwriter “Suits” versi drama Jepang, saya lebih menyukai drama Jepang  “Plastic Beauty” dibanding drama lainnya (termasuk drama Korea) yang berkisah tentang transformasi jadi cantik ini.

ngerumpidotco.my.id
kuku panjang Numata, aneh gak sih?

Malah saya siap untuk rewatch, meski ada beberapa ganjalan, salah satunya kuku Numata (FL) yang panjang. Dia juga perokok. Duh, dia dokter lho. Rasanya hancur image tentang dokter yang selalu menjaga kebersihan dan kesehatan.

Hal menyebalkan lainnya adalah alur kisah yang cenderung berantakan. Ikegami Junya sebagai penulis scenario gemar merangkai puzzle, namun sayang tidak dituntaskan, rangkaian puzzle yang belum jadi ditinggalkan begitu saja.

Oiya, juga muncul beberapa adegan yang janggal, diantaranya ketika Arata Tohyama minta Rin, anak angkatnya untuk melakukan face lift. Tanpa proses, si anak langsung mengoperasi.

Hasilnya? Wajahnya gak berubah seperti Sakashita Yuriko. Hanya ada bekas jahitan di sekeliling wajahnya. Kumaha ieu teh? 😀😀

Eniwei, saya tetap suka menonton drama Jepang “Plastic Beauty”, seperti kesukaan saya pada drama medical dan konten-konten “before after”. Menyenangkan sekali melihat oplas membuat si itik buruk rupa berubah jadi angsa cantik. 😊💙

Baca juga film/drama tentang perempuan terobsesi  jadi cantik:

Shadow Beauty, Karena Setiap Anak adalah Masterpiece

My ID is Gangnam Beauty, Kisah si Buruk Rupa vs si Cantik Jelita

The Substance, Ketika Menjadi Muda dan Cantik Begitu Menggoda!


Profile

Title: Plastic Beauty

Native Title: ダウンタイム

Also Known As: Dauntaimu

Director: Yuki Saito

Screenwriter: Ikegami Junya

Genres: Drama, Medical

Type: Drama

Format: Standard Series

Country: Japan

Episodes: 8

Aired: Sep 17, 2026

Aired On: Thursday

Original Network: Netflix

Duration: 1 hr. 8 min.


7 comments

  1. wah baca dari reviewnya aja udah seru ya, jadi pengen nonton full :D

    ReplyDelete
  2. Nggak pernah nonton drama Jepang sih aku. Tapi, aku amaze banget itu sama foto before afternya face lift nenek 75 tahun itu lho, Kak. Beneran nggak sih? Kayak beneran face lift gitu. Keren dah.

    ReplyDelete
  3. Saya merinding nonton drama ini padahal baru sampe 2-3 episode. Kok mendadak membayangkan ngeri sebuah pisau tajam "mengakuisisi" bagian tubuh (khususnya wajah) agar berubah jauh lebih keren, bahkan berubah total dari aslinya. Apalagi setelah beberapa kali lihat banyak cerita/film yang menghadirkan night mare untuk mereka yang gagal oplas. Aiihh mungkin inilah kenapa oplas non-medis, bukan untuk tujuan kesehatan dan atau penyelamatan nyawa, dilarang oleh agama Islam, baik pada pasien dan dokter yang melakukannya. Ternyata ya banyak kenyataan setelahnya yang tidak seindah apa yang diperhitungkan manusia. Beneran merinding saya.

    ReplyDelete
  4. Ternyata di balik keputusan seseorang melakukan oplas, ada banyak alasan yang kadang enggak kita ketahui, termasuk soal kepercayaan diri dan kesehatan mental. Saya juga setuju, kita enggak perlu buru-buru menghakimi pilihan orang lain selama memahami risiko dan pertimbangan medisnya. Tapi dari ceritanya, drama Plastic Beauty ini bukan sekadar soal mengubah penampilan, ya, melainkan juga tentang keluarga, rahasia, dan penerimaan diri. Jadi penasaran pengin nonton juga, nih sayaa!

    ReplyDelete
  5. Reviewnya membuat penasaran, mana udah lumayan lama nggak nonton dorama Jepang. Plastic Beauty auto masuk list tontonan, mana hanya 8 episode, bisa kebut nonton sampai tamat.

    ReplyDelete
  6. Kalau baca ini sih kayaknya seru ya kak. Masalahnya saya sudah trauma lihat drakor Jepang, soalnya bagus di tengah tapi di belakang acak-adut dan membosankan.

    ReplyDelete
  7. Tumben banget drama Jepang ratingnya nggak fantastis. Pas baca sampai akhir baru tau kenapa alasannya. Rupanya memang ada beberapa kejanggalan yaa. Padahal secara premis sangatlah menarik.

    Plastic Beauty, mengingatkan kita bahwa menjadi cantik itu bisa diupayakan salah satunya dengan oplas. Tentu saja harus diimbangi ada uang yang mumpuni. Jadi penasaran sama drama Jepang yang satu ini. Nanti mau intip dan nonton akh.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung dan memberi komentar
Mohon menggunakan akun Google ya, agar tidak berpotensi broken link
Salam hangat