Doctor X: Mafia in White, Tentang Dokter Eksentrik yang Anti Gagal
Meski lama berkelana menikmati drama China, saya gak pernah ninggalin drama Korea. Akting para pemerannya itu lho yang bikin addict. Akting mereka natural, mendalam dan subtil (halus).
Apalagi akting para chungmuro-nya (sebutan bintang papan atas Korea Selatan yang memiliki kualitas akting kuat, dan dihormati di industri perfilman), mereka layak dijuluki King/Queen “Micro Expressions”.
Mikro ekspresi adalah gerakan otot wajah yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat, hanya sepersekian detik, yang mencerminkan emosi jujur di bawah sadar seseorang.
Sewaktu menyampaikan emosi yang kompleks, mereka tidak berteriak, menangis histeris, atau mengerutkan wajah secara berlebihan (akting makro).
Para chungmuro ini menguasai teknik "Less is More". Cukup dengan tatapan mata yang bergeser sekilas, kedutan kecil di sudut bibir, atau helaan napas yang menahan tangis, penonton sudah bisa merasakan konflik batin yang luar biasa di dalam karakter tersebut.
Mereka benar-benar masuk ke dalam psikologi karakternya, sehingga ketika memikirkan apa yang dipikirkan karakter dan merasakan apa yang dirasakan karakter, tubuhnya secara otomatis akan mengeluarkan mikro ekspresi yang jujur.
Gak heran, akting mereka sangat "dicintai kamera". Setiap detail emosinya terlihat organik dan nyata saat layar memperbesar wajahnya.
Kala aktor biasa hanya bisa menunjukkan wajah "sedih" atau "marah". Seorang maestro mikro ekspresi bisa menunjukkan dua emosi yang bertolak belakang sekaligus. Seperti karakter yang sedang tersenyum ramah namun matanya menunjukkan kilatan ketakutan, rasa jijik, atau dendam yang tersembunyi.
Dalam drama Korea “Doctor X: Mafia in White”, King Micro Expressions itu adalah Son Hyun-Joo yang berperan sebagai Bu Seung-Gwon, direktur Guseo University Seonam Medical Center, rumah sakit tempat Doctor X bekerja.
Baca juga drama Korea Bergenre Medis lainnya:
Hyper Knife, Pertarungan Murid vs Guru
Doctor John, Kisah Penderita Tanpa Rasa Sakit
Doctors, Kala si Anak Nakal Menjadi Dokter
Doctor Prisoner, Saat Dokter Bermain -main Dengan Obat
Kim Ji Won sebagai Gye Su Jeong / "Doctor X"
Ini kisah seorang petarung solo
Sosok penyindiri yang muncul di era mafia berjas putih
Saat misi menyelamatkan nyawa tunduk kepada uang dan kekuasaan
Dia tak terikat pada kelompok mana pun
Dia sangat benci otoritas dan tak mau tunduk pada siapa pun
Senjatanya cuma surat izin praktik
Dan keahlian yang diasah sejak nol
Mendapat julukan si “Ular Gye” dari rekan sejawatnya, Gye Su Jeong memang eksentrik. Dia menabrak semua sopan santun semu yang terkadang malah menyulitkan, bahkan menjerumuskan.
Pengalaman bertahun-tahun sebagai relawan di berbagai sudut dunia, membuat Gye Su Jeong kerap berpacu dengan waktu dan peralatan medis seadanya.
Di Guseo University Medical Center, dia sempat berhadapan dengan dokter Na Dae-Il, pemilik pengalaman 20 tahun sebagai dokter militer.
Na Dae-Il yang sempat dipuja rekan dokter lainnya sebagai: dokter pahlawan, cahaya malaikat dan pujian lainnya, ternyata punya kebiasaan sadis, yaitu mengukir inisial namanya di organ tubuh pasien.
Beruntung Gye Su Jeong menemukan kejahatannya dan berbalik mengancam Na Dae-Il yang beralasan dia mengalami gangguan psikologis akibat stress.
Esensi menjadi dokter adalah
Belajar dari tubuh pasien
Bukan mencari kesenangan di dalamnya
Kim Woo-Seok sebagai Park Tae-Gyeong
Sesuatu yang tak menyakitimu
Tak dapat kau lihat
Keluarganya memiliki klinik kesehatan menjadi penyebab Park Tae-Gyeong mengambil kuliah kedokteran dan tengah menjadi dokter magang di Guseo University Medical Center.
Dia beruntung bertemu Gye Su Jeong, dokter bedah yang punya segudang pengalaman.
Synopsis Doctor X: Mafia in White Korean Drama
Aku tak pernah gagal mengoperasi
Demikian kata Gye Su Jeong, seorang dokter ahli bedah. Sepintas terdengar pongah, namun dia membuktikan kemampuannya. Tidak hanya anti gagal, Gye Su Jeong yang punya julukan Doctor X, berhasil memangkas waktu operasi.
Keberadaan Gye Su Jeong di Guseo University Medical Center (GUMC) tidak disukai teman sejawatnya, bahkan mereka menjuluki sebagai Si Ular Gye. Banyak penyebabnya, di awal kedatangannya dia berani melawan perundungan dengan menolak tugas gak jelas.
Gye Su Jeong juga selalu pulang tepat waktu, namun yang paling kontroversial, dia mengritik dokter lainnya:
Aku tak suka kalian. Orang yang kuliah untuk kaya dan naik jabatan
Pintar, tapi tak bijak. Yang tak ada etika dan prinsip, tak bebas berpikir
Kalian menjilat atasan sambil merendahkan pasien
Kalian cari muka ke atasan dan menindas perawat
Kalian abaikan korupsi atasan dan salahkan system atas masalah kalian
Kalian orang tak bertanggungjawab yang hanya mengutamakan kenyamanan sendiri
Kalian dokter yang bermodalkan gelar
Apesnya dokter lain yang bernaung di bawah GUMC tak dapat menolak kehadiran Gye Su Jeong. Mereka kekurangan tenaga ahli sehingga terpaksa menghubungi Director Jang's Locum Tenens Agency, suatu agensi penyalur tenaga medis.
Dan Gye Su Jeong merupakan tenaga medis unggulan agensi tersebut. Dia bergabung setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun sebagai relawan misi medis ke seluruh pojok dunia.
Sesuai karakternya yang eksentrik, di awal kedatangannya Gye Su Jeong berani mendebat Kim Myeong-Seop, direktur GUMC yang memiliki julukan “tangan ajaib” karena keberhasilannya dalam operasi kanker.
Sebelum pensiun, dia ingin meninggalkan legacy dengan melakukan bedah terbuka pada Seo Byeong-Gyu, pasien kolesistitis untuk deteksi dini kanker kantong empedu.
Gye Su Jeong mengritik keputusan bedah terbuka yang terlalu berisiko. Dia menyarankan bedah laparoskopi (menggunakan kamera kecil (laparoskop) kedalam sayatan kecil berukuran sekitar 0,5 – 1,5 cm).
Saran Gye tentu saja ditolak Direktur Kim dengan angkuh. Akibatnya fatal, ketika sedang mengoperasi, Direktur Kim nampak tak fokus dan jatuh tak sadarkan diri. Dia mengalami anafilaksis (darurat medis)
Beruntung Gye nampak tahu bakal terjadi sesuatu hal pada Direktur Kim, sehingga dengan cepat berlari untuk memberi epinefrin injeksi, kemudian meneruskan operasi pasien Seo.
Sukses! Bahkan Jo Won-Jin ahli anestesi, dan Park Tae-Gyeong, dokter magang yang bertugas sebagai asisten, memuji kecepatan Gye dalam menyelesaikan operasi.
Uniknya, seperti mengetahui bahwa Gye bakal sukses melakukan operasi, Jang Hui-Suk ketua agensi, segera menyodorkan tagihan.
Gye memang spesialis bedah, dia mengantongi beberapa spesialisasi, seperti bedah umum dan bedah KTKV. Dan seperti sesumbarnya: dia tak pernah gagal.
Review Doctor X: Mafia in White Korean Drama
Tak banyak pasien
Yang mampu menjelaskan rasa sakit mereka
Ternyata industry hiburan Korea banyak menghasilkan drama bergenre medis. Saya baru nyadar ketika searching di blog saya. Jika digabung dengan beberapa drama yang gak sempat ditulis reviewnya, ditambah yang gak sempat saya tonton, wuih mungkin puluhan jumlahnya.
Hal tersebut bisa jadi sesuai dengan kesukaan masyarakat Korea, terlihat dari tingginya jumlah penonton drama Korea “Doctor X: Mafia in White”. AGB Nielson mencatat rating 11.4% (nationwide) dan 11.2% (Seoul) pada episode awal, melaju terus hingga episode 4 mencapai 18.5% (nationwide) dan 18.4% (Seoul).
Wow hari gini dua digit? Apalagi di setiap episode ratingnya selalu memuncaki tangga teratas (1st).
Related dengan keseharian penonton menjadi salah satu penyebabnya, ditambah bumbu edukasi ringan tentang dunia kesehatan, serta tentu saja kondisi pasien yang terkadang sedang bertaruh nyawa.
Sehingga, meski muncul kontroversi di episode 6 drama Korea “Doctor X: Mafia in White”, drama ini akan baik-baik saja.
Konon penyebabnya episode 6 mengangkat kisah korban Tragedi Gwangju 1980 serta representasi terkait mantan Presiden Chun Doo Hwan.
Jujurly, saya malah penasaran dengan drama Jepang yang asli (drama Korea “Doctor X: Mafia in White” merupakan remake dari drama Jepang "Doctor-X” (2012) yang tayang di TV Asahi), karena karya sineas Korea ini agak janggal.
Biasanya remake hanya menyesuaikan dengan kondisi saat ini, sementara karakter pemeran utama tetap sama, demikian konfliknya, seperti pemegang kekuasaan yang cawe-cawe dengan kebijakan serta perebutan kursi direktur.
Nah penulis drama scenario drama Korea “Doctor X: Mafia in White” lebay dan kebablasan. Salah satunya dalam episode 2, Doctor X seenaknya merebut kursi roda dari seorang pasien, untuk digunakan pasien lainnya yang tak sadarkan diri.
Caranya itu lho yang ngawur! Masa seorang dokter mendorong pasien hingga jatuh tersungkur, padahal dia adalah pasien kanker yang sudah berusia lanjut. Keterlaluan bukan?
Pasien kanker tersebut memang “penjahat kerah putih” yang kaya raya dan pernah mendanai bangsal kanker anak. Namun pasien tetaplah pasien. Sebagai pasien, dia bisa menuntut rumah sakit (tuntutan pidana dan perdata).
Saya sampai searching lho terkait kekerasan ini, dan jawabannya:
Tindakan mendorong pasien hingga jatuh dan mengambil kursi rodanya bukan lagi sekadar kelalaian medis (negligence), melainkan sudah masuk ke ranah Perbuatan Melawan Hukum (PMH), penganiayaan, serta perampasan hak pasien.
Selain kisah lebay di atas, secara keseluruhan, drama Korea “Doctor X: Mafia in White” masih kalah menarik dibanding drama Korea bergenre medis lainnya, seperti drama Korea “Partners for Justice”, “The Trauma Code: Heroes on Call”, apalagi drama favorit saya: “Resident Playbook”.
Akting Kim Ji Won juga terasa B saja. Mungkin disebabkan screenwriter yang mengabaikan pengembangan karakter. Doctor X seperti muncul begitu saja dari negara antah berantah.
Drama ini terselamatkan dengan banyaknya aktor senior sebagai support role, bahkan Son Hyun-Joo, aktor chungmuro ikut bergabung.
Keren banget aktingnya. Gak butuh banyak kalimat untuk mengatakan isi hati, cukup menggerakkan kelopak mata, area wajah lain, atau bahkan hanya sekadar helaan napas.
![]() |
| Oh iya, iklan Kopiko bertaburan di drama ini. 😀😀 |
Baca juga drama Korea Bergenre Medis lainnya:
Partners for Justice 2, Psikopatnya Dokter yang Ganteng!
The Trauma Code: Heroes on Call, Tentang Tangan Tuhan Dokter Baek Kang-Hyuk
Resident Playbook, Asam Manis Perjuangan Dokter Residen
Ghost Doctor, Ada Hantu di IGD Rumah Sakit Eunsang
Profile
Title: Doctor X: Mafia in White
Doctor X (Japanese original story)
Native Title: 닥터X : 하얀 마피아의 시대
Also Known As: Dakteo X , Dakteo X: Hayang Mafiaui Sidae , Doctor X: Age of the White Mafia , 닥터X , 닥터X: 하얀 마피아의 시대
Director: Lee Jung Rim
Genres: Thriller, Mystery, Medical
Type: Drama
Format: Standard Series
Country: South Korea
Episodes: 12
Aired: Oct 9, 2026 - Nov 14, 2026
Aired On: Friday, Saturday
Original Network: SBS
Duration: 1 hr. 10 min.





.png)
.png)

9 comments
Wo alah. Ada tho kasus yang sebenarnya kekerasan medis yang dilakukan sama Doktor X. Selama ini, aku cuma nonton cuplikan-cuplikan yang ada di media sosial sih.
ReplyDeleteYang kulihat di cuplikan-cuplikan itu, Kim Ji-won keren banget sebagai Doctor X. Kayak 11-12 sama dokter Baek di The Trauma Code: Hero on Call itu.
Setuju, aktor yang hebat itu kadang tidak perlu banyak dialog atau ekspresi berlebihan untuk menyampaikan emosi. Cukup lewat tatapan mata dan gerakan kecil di wajah, penonton sudah bisa ikut merasakan. Tapi soal adegan Doctor X yang mendorong pasien sampai jatuh, duh, kebangetan juga, ya. Jadi penasaran, meskipun dari review ini sepertinya drama ini belum berhasil menandingi drama medis favorit lainnya.
ReplyDeleteAktingnya Son Hyunjoo subtil banget. Gye Sujeong aku juga suka karena dia dokter yang berani melawan mafia berjas putih. Walau ceritanya agak lebay yaaa, trus Kim Jiwon juga karakternya masih kurang tergali. Aku malah penasaran versi Jepangnya soalnya belum tonton.
ReplyDeleteSerem banget dokter Na pake acara ngukir organ segala. Tapi ternyata ini bukan drama medis terbaik, ya. Malah penasaran sama versi jepangnya
ReplyDeleteDua dokter ( Gye Su Jeong dan Na Dae-Il ) dengan pemikiran dan watak berbeda, dan ini memang nyata sih jika kita telisik di dunia kerja. Pastinya ada saja pola konflik berseberangan. Ada saja drama2nya ya, hehe.
ReplyDeletekalo chungmuro-nya Indonesia menurut versi saya jatuh pada reza rahadrian, bahkan peran BJ Habibie watak bangeet. Hampir ngga pernah melewatkan film2nya, cuma laut bercerita aja yg belum smpeet nonton nih. Emang pemilihan aktor itu penting yaa supaya hasilnya filmnya itu ngga berasa kek hasil syuting...
ReplyDeleteMengukir inisial di organ tubuh pasien? Aeeehhh kejamnya. Apa gak ada efek membahayakan bagi si penderita? Ah. Aku masih nunggu drama selesai total, baru nonton. Dan eh aku pun sekarang sering memperhatikan micro expressions ini Mbak. Mengagumkan memang melihat para chungmuro bisa melakukan ini tanpa harus habis energi tarik urat untuk menunjukkan ekspresi yang butuh energi lebih.
ReplyDeleteSaya sempat heran kenapa sekarang ramai pada bahas Doctor X. Perasaan saya udah nonton beberapa tahun lalu. Ternyata saya baru tau, kalau yang dibahas ini drakor, ya. Sedangkan saya nontonnya yang Jepang.
ReplyDeleteDulu, dorama ini jadi salah satu favorit saya. Jadi pengen re-watch. Tapi, penasaran juga dengan drakornya.
Barbar pissan yaa, Ambu..
ReplyDeleteDrama memang beneran menonjolkan sisi-sisi "drama"nya. Yang mungkin di kehidupan aslinya, bisa jadi lebih "drama" lagiii... karena terkait pasien ini, tentu banyak sekali akar masalahnya. Padahal tugas dokter cuman satu yaa.. mengobati pasien.
Suka banget sama Doctor X.
Jadi penasaran sama versi Jepangnya yang uda ada sejak 2012.
Waah.. kereennzz~
Dorama Jepang tak terlupakan memang salah satunya genre medis. Sebelum ada The Trauma Code: Heroes on Call, dulu di Jepang ada "Code Blue"nya Yamapi.
Indaahh sekaliii..
Terimakasih sudah berkunjung dan memberi komentar
Mohon menggunakan akun Google ya, agar tidak berpotensi broken link
Salam hangat