Karhutla tak Juga Padam, Greenpeace Bertindak
Mendadak hati saya terasa nyeri. Sakit sekali. Sebuah short video menampilkan bayi orangutan yang berusaha nenen (menyusu) pada induknya yang tergeletak, tak bergerak. Dia kebingungan karena tak menemukan air susu.
Sedih banget ya? Semula saya pikir induk orangutan telah mati. Untunglah belum. Dia tak bergerak setelah diberi sedasi, tindakan medis agar merasa nyaman sebelum perawatan intensif.
Biang keroknya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan yang berlangsung sejak awal Januari 2026. Akibatnya induk orangutan kelaparan selama berminggu-minggu, sehingga dia gak mampu menghasilkan cukup ASI untuk anaknya.
Beruntung ibu dan anak ini ditemukan Karmele Llano Sanchez dan timnya. Karmele merupakan Dokter Hewan Konservasi Satwa Liar. Dia juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif sekaligus CEO Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI)
Berkat pengabdiannya (sejak 2003) banyak satwa liar berhasil diselamatkan, termasuk satwa di kawasan terdampak karhutla di Kalimantan Barat, tempat bayi orangutan bernama Irene tersebut ditemukan.
Baca juga:
Decluttering vs Zero Waste Lifestyle, Kamu Pilih Mana?
Mengukir Legacy Melalui Komunitas Pengelola Sampah
Daftar isi:
- Karhutla atau Pembakaran Hutan dan Lahan di Indonesia?
- Korban Berjatuhan, Penguasa Tone Deaf
- Srikandi Greenpeace Menyentil Pemerintah
Saya tak berani membayangkan nasib satwa-satwa lainnya. Mungkin mereka berusaha lari menyelamatkan diri, naas keberuntungan tidak berpihak. Mereka mati terpanggang di hutan Kalimantan.
Tidak hanya satwa, karhutla juga merenggut nyawa manusia. Terutama penduduk setempat yang memiliki riwayat asma, salah satunya Lisna (29 tahun), seorang warga Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Selama periode kabut asap penyakitnya kerap kambuh, dan akhirnya menghembuskan napas terakhir pada 26 September 2026.
Bencana Karhutla di Kalimantan membuat saya teringat pada Antung Apriana, blogger Banjarmasin yang banyak menulis tentang parenting. Ternyata dia juga terdampak, kabut asap tebal menyerbu ketika membuka pintu rumah dan bersiap pergi ke kantor, sementara kedua anaknya berangkat ke sekolah.
Dan seperti halnya blogger, Antung Apriana punya saluran menulis di blog, tulisan yang bakal jadi rekam jejak bencana kabut asap karhutla saat ini. Tak lupa dia menitip pesan: “Jangan Sampai Kita Terbiasa dengan Bencana”!
Karena jumlah korban kabut asap karhutla luar biasa banyak!! Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per 21 Oktober 2026, kabut asap karhutla memakan korban anak-anak usia 0–5 tahun (balita), yaitu 75.172 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Dan sebagai ibu, kita pastinya tahu, anak sakit gak hanya rewel, juga gak mau makan (GTM). Rasanya sedih dan serba salah, balita mereka sedang dalam golden age, yaitu periode awal kehidupan anak, ketika pertumbuhan otak, fisik, dan kemampuan dasar berlangsung sangat pesat.
Sehingga selama kabut asap karhutla tak juga ditangani, maka puluhan ribu balita tersebut pertumbuhannya berpotensi mandek, bahkan menurun.
Jumlah pasien ISPA non balita tak kurang banyak, jika ditambahkan maka total kumulatifnya menjadi 333.470 kasus di 7 provinsi dan 68 kabupaten/kota.
![]() |
| 11 Oktober 2026, jerebu di Palangka Raya termasuk kategori berbahaya dengan indeks standar pencemaran udara mencapai mencapai 414 (sumber: ANTARA FOTO) |
Korban Berjatuhan, Penguasa Tone Deaf
Media asing Al Jazeera dan AFP (Agence France-Presse) pada Kamis, 30 Oktober 2026 merilis berita tentang temuan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) yang memperkirakan 3.560 kematian terjadi sepanjang September 2026 akibat jerebu dari kebakaran hutan dan lahan.
Jerebu adalah kondisi udara yang dipenuhi oleh partikel-partikel halus, debu, asap, dan polutan berbahaya dalam konsentrasi tinggi (PM 2.5) yang melayang di atmosfer.
Akibatnya:
Iritasi: Mata perih, hidung gatal, dan tenggorokan kering.
Gangguan pernapasan: Batuk, sesak napas, hingga risiko infeksi atau radang paru-paru.
Kemungkinan besar jumlah kematian lebih besar daripada laporan CREA karena kasus seperti yang diderita Lisna tidak dicatat sebagai korban jerebu. Padahal seperti kata Anies Baswedan bahwa “angin tak punya KTP”, jerebu dari Indonesia mengganggu aktivitas tetangganya, Malaysia, Singapura dan Brunei.
Tak kurang “tetangga jauh” Indonesia turut membantu, mereka adalah Pasukan Bela Diri Darat Jepang (Japan Ground Self-Defense Force) yang datang membawa tiga helikopter CH-47 Chinook beserta personel dan peralatan pendukung.
Terhitung dari Pada 16 September 2026 hingga 28 September, mereka berhasil melakukan 40 kali operasi pemadaman, atau total sekitar 220 ton air dijatuhkan untuk memadamkan kebakaran hutan di Pulau Kalimantan.
Sedihnya, (atau sebelnya) pemerintah rupanya tengsin. Terlihat dari siaran pers resmi Kementerian Pertahanan Jepang bertanggal 29 September 2026, pemerintah Indonesia menyatakan terimakasih dan selanjutnya akan menangani sendiri karhutla.
Dan seperti kita ketahui, alih-alih padam karhutla malah melahap sejumlah cagar alam dan kawasan konservasi seperti Tahura Bukit Soeharto (Kaltim), Taman Nasional Wasur (Papua Selatan) dan Taman Nasional Way Kambas (Lampung), sehingga sejumlah sumber memperkirakan total area terdampak sejak awal tahun 2026 telah mencapai kisaran 1,9 juta hectare!!
![]() |
| 10 petugas dan relawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meninggal dunia dalam tiga bulan terakhir (sumber: katadata.co.id) |
Bahkan sampai tulisan ini dipublish, walau hujan mulai turun di beberapa lokasi, para relawan masih berusaha memadamkan sejumlah titik api.
Selain punahnya flora fauna, warga local menderita ISPA dan meninggal, ada kerugian yang diabaikan pemerintah, yaitu kerugian ekonomi.
Salah satunya dialami Kasman, warga Kurnia Ujung, Landasan Ulin Utara, Liang Anggang, Banjarbaru. Empat hektar lahan yang ditanami berbagai jenis pohon, seperti durian, jambu kristal, lengkeng, jeruk, alpukat, pisang, kelapa, pepaya, singkong, dan petai, habis terbakar pertengahan Agustus 2026.
Berapa jumlah kerugiannya?
Ratusan juta rupiah! “Kalau secara rinci saya enggak bisa menghitung lagi. Pusing. Takut stress,” katanya.
Tidak hanya petani yang mendadak bangkrut akibat karhutla, banyak peternak juga mengalami kehancuran ekonomi, seperti yang dialami Abdul Kholik, warga Pembataan, Landasan Ulin Selatan, Liang Anggang, Banjarbaru.
Peternak berusia 38 tahun harus pasrah sewaktu api yang membakar lahan gambut meneruskan perjalanannya, untuk melahap kandang dan memanggang ratusan ekor ayam.
Srikandi Greenpeace Menyentil Pemerintah
Karhutla tak juga ditangani, dibantu gak mau, sementara korban terus berjatuhan, baik korban meninggal maupun sakit, ekonomi terganggu, gak heran Greenpeace mewartakan ketidak becusan pemerintah dengan membentangkan spanduk di Patung Selamat Datang, Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026.
Apa saja isi spanduk Greenpeace untuk memperingati dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran ini?
Spanduk Pertama (menghadap ke selatan):
“Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?”
Spanduk Kedua (menghadap ke arah Istana Merdeka di utara):
“Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup”
Aksi membentangkan spanduk di tempat umum memang ciri khas Greenpeace dalam berkampanye, selain penelitian, dan penyebaran informasi kepada masyarakat.
Didirikan tahun 1971 di Vancouver oleh sekelompok aktivis lingkungan dan perdamaian, Greenpeace memiliki prinsip berkampanye tanpa kekerasan.
Dan mereka berhasil!
Aksi sekitar 2 jam (mulai pukul 06.00 WIB dan mulai diturunkan/dievakuasi petugas sejak pukul 10.30 WIB hingga spanduknya dicopot paksa tak lama setelah itu) diliput media dan sumber luar negeri.
Aksi mereka juga mengguncang jagat maya. Terlebih dalam kampanye kali ini nampak 2 Srikandi Greenpeace turut memanjat Monumen Patung Selamat Datang yang memiliki ketinggian 30 meter.
Harus diakui perempuan menjadi kelompok yang paling rentan terkena dampak bencana kabut asap karhutla. Mereka mengalami beban berlapis (ganda) baik dari sisi biologis, sosial, maupun ekonomi.
1. Risiko Kesehatan Reproduksi dan Biologis
Kehamilan dan Janin:
Paparan partikel halus beracun seperti polutan berbahaya (PM 2.5), karbon monoksida (CO), hingga nitrogen oksida meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, kelahiran prematur, serta gangguan tumbuh kembang janin.
Kesehatan Ibu dan Anak:
Ibu menyusui dan balita mengalami kerentanan saluran pernapasan yang lebih tinggi. Puluhan ribu balita (rincian di atas) perawatannya sebagian besar ditanggung oleh para ibu.
Sanitasi dan Kebersihan:
Saat krisis air bersih melanda akibat kerusakan lingkungan, perempuan menghadapi risiko iritasi atau masalah kesehatan organ reproduksi, khususnya ketika mengalami menstruasi tanpa akses sanitasi yang memadai.
2. Beban Kerja Domestik yang Meningkat
Kerja-kerja Perawatan (Care Work):
Ketika kualitas udara memburuk, perempuan umumnya menjadi pihak pertama yang harus memastikan anak-anak dan anggota keluarga tetap aman di dalam rumah.
Pekerjaan Tambahan yang Tak Terlihat:
Kabut asap dan abu membuat pekerjaan rumah tangga berlipat ganda, seperti jemuran pakaian kotor terkena abu sehingga harus dicuci kembali, rumah harus lebih sering dibersihkan.
3. Tekanan Ekonomi dan Keterbatasan Akses
Kehilangan Mata Pencaharian:
Banyak perempuan (terutama buruh tani, pekerja informal, atau perempuan kepala keluarga) kehilangan sumber pendapatan akibat rusaknya ekosistem dan terganggunya aktivitas ekonomi.
Ketimpangan Akses:
Perempuan sering kali memiliki akses yang lebih terbatas terhadap informasi mitigasi bencana, layanan kesehatan darurat, hingga bantuan finansial.
Minimnya Keterlibatan dalam Kebijakan:
Suara perempuan (khususnya perempuan adat atau kelompok rentan) jarang dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan atau perencanaan mitigasi karhutla, sehingga kebutuhan spesifik mereka sering terabaikan.
Begitu banyak kerugian akibat karhutla, apakah sebagai warga, kita tidak bisa menuntut Penegakan hukum (law enforcement)?
Ternyata bisa! Bahkan sangat bisa karena pengabaian karhutla melanggar UUD 1945, serta Undang-Undang spesifik terkait karhutla. Kita bahas dalam tulisan berikutnya ya?
Baca juga:
Tumbler, Antara Gengsi dan Zero Waste Lifestyle
Hidup Minimalis antara Hisab dan Peduli Lingkungan




.png)

7 comments
Sedih ya tiap baca berita tentang karhutla ini. Semoga segera tuntas dan tidak terulang lagi
ReplyDeleteSedih, marah, sekaligus miris. Bagian tentang bayi orangutan yang kebingungan mencari ASI dari induknya itu benar-benar bikin hati saya ikut nyeri. Sebagai seorang ibu, membayangkan anak kecil kehilangan rasa aman karena rumah dan lingkungan tempatnya hidup terbakar rasanya nggak tega.
ReplyDeleteLebih ga tega baca si bapak yang hasil kebunnya habiiisssss.. yaa Allaaah :(((
Saya juga jadi berpikir, selama ini kita sering melihat karhutla sebatas berita kebakaran hutan, padahal dampaknya jauh lebih luas. Ada kehidupan manusia yang terganggu, anak-anak yang harus menghirup udara beracun, perempuan yang bebannya semakin berat, petani yang kehilangan mata pencaharian, juga satwa-satwa yang kehilangan habitatnya. Ini bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi persoalan kemanusiaan.
Dan saya salut dengan keberanian para Srikandi Greenpeace. Rasanya memang perlu ada lebih banyak perempuan yang berani bersuara, karena menjaga bumi bukan hanya urusan aktivis atau pemerintah, melainkan tanggung jawab kita semua. Saya setuju sekali dengan pesan bahwa kita jangan sampai terbiasa dengan bencana. Jangan sampai sesuatu yang seharusnya membuat kita prihatin justru dianggap sebagai berita rutin yang lewat begitu saja di beranda.
Sedih ya sama kondisi negara saat ini. Karhutla di mana-mana, negara abay. Malah udah siap mau menggarap ex karhutla. Ketahuan banget kalau kebakaran ini disengaja.
ReplyDeleteNyawa relawan maupun petugas kayak engga ada artinya. Keren ya para Srikandi Greenpeace ini. Mereka latihan dalam senyap, ujug-ujug jeder, udah manjat aja ke Patung Selamat Datang...
Ampun ya. Jagani gengsi malah enggan perduli. Ya gimana?
ReplyDeleteNggak mau dibantuin beresin bencananya. Tapi, nggak mau gerak. Negara tetangga mah juga perduli sama diri mereka juga, makanya tergerak membantu.
Kalau seandainya asapnya nggak nyamperin negara mereka, mungkin juga nggak bakalan maksa bantu ya.
Duh Indonesia, semoga segera pulih ya kita.
Salut untuk dr. Karmele Llano Sanchez dan tim YIARI yang terus berjuang menyelamatkan satwa liar di tengah bencana karhutla. Semoga Irene dan induknya bisa pulih dan kembali hidup aman di habitatnya. Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa kerusakan hutan bukan hanya soal hilangnya pepohonan, tetapi juga kehidupan makhluk-makhluk yang ada di dalamnya
ReplyDeleteIni belum lagi kebakaran di PAPUA ya Mbak. Yang angka lahan terbakarnya lebih luas dari Kalimantan. Dan hingga saat ini semakin cepat kebakarannya. Ya Allah karhutla semakin mengganas banget. Kesedihan kita belum terputus. Bahkan, menurut info beberapa orang teman yang tinggal di Pontianak, Palangkaraya, dan Banjarbaru, setelah hujan deras, kebakaran masih menyambung. Astaghfirullah.
ReplyDeletePedih juga lihat reaksi pemerintah. Saya sedih banget pemerintah kita begitu "gengsinya" menerima bantuan dari Japan Ground Self Defense Force itu. Padahal hasil kerja mereka nyata dan sangat membantu. Padahal kita dan Jepang kan hubungan diplomatiknya bagus. Dan Jepang sendiri sudah membuktikan keseriusan mereka untuk membantu.
Ah speechless lah. Apalagi sudah ditegur oleh Greenpeace juga. Kondisinya sudah mendunia. Lalu kenapa sih pemerintah kita tone-deaf begitu?
Saya berharapnya tidak hanya tuntutan karena dampak kerugian akibat karhutla. Pengen banget langkah pencegahannya juga ada. Tentu sangat erat kaitannya dengan hukum juga. Bikin aturan sangat ketat dan dijalankan dengan baik supaya tidak lagi kejadian karhutla seperti saat ini. Sedih melihat paru-paru dunia yang dulu selalu dibanggakan, mulai habis lahannya.
ReplyDeleteTerimakasih sudah berkunjung dan memberi komentar
Mohon menggunakan akun Google ya, agar tidak berpotensi broken link
Salam hangat