c Sarwendah dan Jebakan Ilusi Pernikahan | Ngerumpidotco

Sarwendah dan Jebakan Ilusi Pernikahan

ngerumpidotco.my.id
sumber:instagram.com/sarwendah29

 Sarwendah dan Jebakan Ilusi Pernikahan

“Seorang anak berhak mendapatkan nafkah dari ayah kandungnya meskipun ayah dan ibunya telah bercerai. Perceraian antara suami dan istri tidak memutus hubungan darah antara anak dan ayah kandung”.

Di antara keributan lovers dan haters kasus Sarwendah-Ruben Onsu, rasanya pingin banget saya meneriakkan kalimat di atas.

Dua kubu saling ribut dan mengabaikan hal-hal yang  fundamental. Kubu Ruben Onsu mendramatisir kisah bahwa Ruben sudah bekerja keras. Enak banget Sarwendah, sebagai jandanya minta uang Rp 200 juta per bulan. Sementara kubu Sarwendah mengembangkan kisah bahwa Ruben merupakan pengidap HIV (B20).

Mereka mengupas habis seolah-olah paling tahu tentang keadaan kedua selebriti tersebut, dan melupakan korban sesungguhnya, yaitu anak Sarwendah dan Ruben Onsu: Thalia dan Thania!

Rasanya baru kemarin saya menonton video Thania yang sedang memarahi pamannya, atau video Thania yang sedang bernyanyi "Aku Sedih", lagu yang dipopulerkan oleh Yoan Tanamal (penyanyi cilik, anak musisi Enteng Tanamal dan penyanyi Tanty Yosepha) sambil memencet keras-keras tuts piano.

Tentu saja nada lagu gak nyambung dengan tuts piano. Asal pencet dan asal bunyi genjreng. Lucu banget. Apalagi wajah Thania tuh bikin gemes. Pipinya chubby.

Mami Nia, nama panggilan yang diminta anak balita tersebut, sukses menyedot perhatian penonton dengan tingkah polahnya.

Baca juga:

Rekomendasi YouTube Channel agar Selalu Update

Jennifer Lopez dan Cara Mendidik Anak Agar Punya Kebanggaan Diri

Daftar Isi

  • Anak, Korban Sesungguhnya Kasus Sarwendah-Ruben Onsu
  • Sarwendah dan Jebakan Ilusi Pernikahan
  • Perempuan, Mengapa Gak Bela Perempuan

Sering memutar video tentang Mami Nia membuat saya “terperangkap” dalam konten-konten yang mengalir deras dari channel YouTube The Onsu Family.

Begitu banyak, hingga sering merasa heran: Keluarga ini gak punya privasi ya? Bayangkan, kita bisa melihat Sarwendah bangun tidur, masih kucek-kucek mata, kemudian masuk dapur dan memasak.

Disusul keseharian Sarwendah dan anak-anaknya (Ruben jarang muncul, mungkin dianggap udah ada di layar televisi), sampai Sarwendah ketiduran di sofa menunggu Onyo, nama panggilan Betrand Peto anak angkat mereka, yang baru pulang syuting.

Rupanya keluarga ini memang sengaja membuat setiap anggota keluarga sebagai  objek monetisasi. Tak ada hari tanpa konten. Bahkan sehari bisa menghasilkan beberapa konten. Hal ini bisa didengar dari salah satu konten yang berisi pembicaraan Onyo dengan tim-nya.

Jika kesulitan bahan konten , ya diada-adain. Seperti konten Sarwendan dan 3 anaknya menyantap beraneka ragam makanan berwarna tertentu, seperti snack time serba merah, serba hitam dan seterusnya.

Dan lagi-lagi, Ruben tak muncul dalam konten tersebut.

Setelah lama tak melihat konten mereka, berita perceraian itu muncul. Berita yang cukup mengundang tanya: Kok bisa? Selama ini mereka terlihat rukun dan seperti keluarga teladan.

Tentu saja bisa. Hidup ini kan panggung sandiwara. Penonton hanya melihat adegan demi adegan yang serba bagus dan menyenangkan. Kondisi di belakang panggung yang serba acak-acakan dan penuh amarah, ditutupi dan dilarang untuk dipublish.

ngerumpidotco.my.id
sumber:instagram.com/sarwendah29

Sarwendah dan Jebakan Ilusi Pernikahan

‘Papi jadi idola saya. Papi selalu mesra sama mami. Bayangin, udah puluhan tahun menikah, mereka masih mesra. Soal sederhana aja, semisal mami buang air kecil di mall, papi selalu nungguin di luar sambil megangin tas mami.”

Kurang lebih demikian jawaban Sarwendah di channel  YouTubenya  Ashanty ketika membahas tentang pernikahan impian.

Sayang, pasca dipersunting Ruben Onsu pada 22 Oktober 2013 di Nusa Dua, Bali, pernikahan yang dilakoni Sarwendah nampak jauh panggang dari api. Suaminya super sibuk. Termasuk ketika anak mereka, satu persatu lahir ke dunia.

Terlihat dari konten-konten The Onsu Family. Ruben jarang muncul, gak heran akhirnya yang “dieksploitasi” adalah keseharian Sarwendah dengan dasternya, bahkan ke pasar pun dia hanya memakai daster.

Down grade gak sih? Jangan lupa, sebelum menikah Sarwendah adalah anggota girlband Cherrybelle yang modis dan glamor, sesuai kebutuhan industri hiburan, namun pasca pernikahan dia hanya menjadi “konco wingking”.

Bukan berarti Sarwendah tidak berusaha menyamakan derap langkah agar seirama dengan suaminya. Ini terlihat dari daster sebagai bentuk kenyamanan ibu rumah tangga, berubah menjadi bisnis dengan brand “Daster Sarwendah”.

Tapi, sebetulnya apa yang diimpikan Sarwendah? Apakah dia ingin seperti ibunya, menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya? Atau dia hanya melihat peluang sebagai working mom sekaligus ibu rumah tangga?

Pertanyaan ini muncul karena seiring waktu, Sarwendah mulai beradaptasi. Wajahnya yang “jutek” diawal kemunculannya, kini berubah secara signifikan.

Walau tidak tersenyum lebar, wajahnya lebih sumringah. Sarwendah lebih sering muncul dengan busana yang chic dan tas branded. Terselip kehangatan saat membahas menu dengan anak-anaknya.

Harus diakui, tidak mudah menjadi istri seorang selebriti, terlebih selebriti yang memenuhi pundi-pundinya dengan membuat keluarganya sebagai objek konten. Perempuan biasa, akan butuh self healing agar tetap sehat fisik dan psikisnya.

ngerumpidotco.my.id
sumber:instagram.com/sarwendah29

Perempuan, Mengapa Gak Bela Perempuan?

Nah, inti tulisan ini adalah mengapa banyak akun perempuan yang lebih membela Ruben Onsu dibanding Sarwendah? Mengapa banyak akun yang menyerang Sarwendah? 

(Tentunya diluar akun anonym yang sengaja dibuat untuk melemparkan hate speech)

Akun-akun milik perempuan, (terlihat dari isi unggahan pada akunnya)  menyerang Sarwendah yang mempersoalkan kewajiban Ruben Onsu mantan suaminya, dalam menunaikan tugasnya memberi nafkah bagi anak-anaknya.

Kurang lebih isinya: Enak aja udah cerai, gak ngurusin Ruben, tau-tau minta Rp 200 juta per bulan untuk nafkah anak.

Padahal Rp 200 juta itu jumlah yang relative, maksudnya ya sangat besar untuk kita kaum mendang-mending. Namun bagi mereka, sudah lumrah setiap pos pengeluarannya berkali lipat UMR.

Jadi mari kita “kembali ke laptop” untuk melihat akar masalahnya, yaitu pemberian nafkah yang harus dilakukan seorang ayah, meski telah bercerai dengan ibu dari anak-anak tersebut.

Sebagai negara hukum, ada undang-undang yang mengatur, yaitu:

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 41 kurang lebih menyebutkan bahwa:

seorang ayah bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan anak yang diperlukan jika ada perselisihan atau perceraian.

jika lalai, kewajiban nafkah yang tidak dibayar oleh ayah tetap tercatat sebagai utang yang tidak gugur oleh waktu. Ibu atau anak dapat mengajukan gugatan ke pengadilan jika ayah melalaikannya.

Jika melalaikan, maka berlaku Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 Pasal 49 huruf a, setiap orang yang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya dipidana penjara paling lama 3 tahun atau denda paling banyak Rp15 juta.

UU Perlindungan Anak: Berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Anak, pelaku penelantaran yang menyebabkan anak menderita (fisik, mental, atau sosial) dapat dijerat ancaman penjara hingga 5 tahun dan denda hingga Rp100 juta.

Sanksi di atas hanya berlaku pada seorang ayah yang sengaja dan mampu namun melalaikan kewajiban. Tindak pidana penelantaran tidak berlaku pada seorang ayah yang tidak mampu kondisi ekonomi/tidak mampu secara finansial.


Kebetulan kasus ini menimpa Sarwendah. Dia dan mantan suaminya mampu membayar pengacara, bagaimana jika terjadi pada perempuan kebanyakan?

Banyak kasus, setelah perceraian mantan suami mengabaikan tugasnya, padahal dia mampu secara finansial.

Jadi, jangan menggeser masalahnya dengan ucapan Sarwendah yang konon menghina mantan suaminya. Terlebih menghina Sarwendah yang konon pula telah dibiayai operasi plastik hingga cantik jelita, kini punya kekasih yang tampan bernama Giorgio Antonio.

Andai Sarwendah buruk rupa seperti buntelan lontong yang benyek, apakah masih menarik minat para haters?

Lha, jika demikian, mereka iri dong pada Sarwendah? Ups! 😀😀

Sebagai perempuan yang pernah mengalami masalah rumah tangga, saya justru salut pada Sarwendah. Mungkin dia melakukan operasi plastik untuk self healing? Yang pasti apa pun yang dilakukannya, membantunya untuk maju menyongsong masa depan.

Sementara dulu, saya gak berani. Saya memilih bertahan dalam pernikahan walau kerap mengalami KDRT, dengan pertimbangan: Andai bercerai, saya bakal kesulitan membiayai anak saya-saya, bahkan ada kemungkinan anak-anak saya direbut sehingga saya gak bisa ketemu.

Ketakutan saya terbukti, meski masih terikat pernikahan,  saya pernah bertahun-tahun gak bisa ketemu anak bungsu saya, anak perempuan saya satu-satunya.

Jadi, daripada menyerang Sarwendah, mengapa tidak menjadikannya role model? Sewaktu menginjak gerbang perkawinan, tak ada perempuan yang menginginkan perceraian. Namun ketika hal tersebut tak terelakkan, seorang perempuan harus mampu berdaya, kuat, tegar dan menyimpan tangisnya.

Baca juga:

The Art of Listening, Antara Mendengar dan Mendengarkan

Distraksi Berjudul Gus Miftah


0 comments

Terimakasih sudah berkunjung dan memberi komentar
Mohon menggunakan akun Google ya, agar tidak berpotensi broken link
Salam hangat